Kegiatan diawali dengan pemantik reflektif melalui film pendek dan berita yang menggugah: “Siapa aku versi terbaik menurut Allah?” Sebuah pertanyaan sederhana, namun dalam maknanya. Siswa diajak merenung tentang tujuan manusia diciptakan, seberapa jauh mengenal diri, serta bagaimana melihat kelebihan dan kekurangan secara jujur melalui worksheet refleksi diri.
Suasana semakin hidup dengan games edukatif BK yang membangun kesadaran bahwa memahami diri adalah langkah awal menuju pertumbuhan. Dari sini, kesadaran tumbuh: setiap individu memiliki potensi yang Allah titipkan untuk dikembangkan begitupun siswa-siswi kelas 7 Sekolah Islam AlMarjan.
Memasuki tahap berikutnya, siswa mulai bergerak dari refleksi menuju aksi. Mereka merancang produk pengembangan diri. Sebuah komitmen nyata untuk meningkatkan area yang perlu diperbaiki selama satu semester ke depan, dengan spesifikasi dan pendampingan guru BK. Presentasi produk menjadi momen berani menyampaikan rencana perubahan, dilanjutkan refleksi mendalam serta pemahaman tentang emosi sebagai bagian penting dalam proses bertumbuh.
Perjalanan berlanjut pada pembahasan dampak ketika emosi tidak terkelola dengan baik. Video dan berita menjadi cermin nyata bahwa kemampuan mengendalikan emosi adalah fondasi kepemimpinan. Melalui games edukatif berbasis web dan materi pengendalian emosi, siswa belajar bahwa memimpin organisasi di sekolah dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Refleksi pun menguatkan kesadaran bahwa kendali diri menentukan kualitas keputusan.
Nilai kepemimpinan semakin diperkaya dengan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Melalui worksheet dan mind mapping, siswa menggali karakter kepemimpinan yang berlandaskan amanah, kejujuran, ketegasan, dan kasih sayang. Keteladanan menjadi inspirasi bahwa pemimpin sejati bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang akhlak dan tanggung jawab.
Sebagai penutup, materi kepemimpinan dan organisasi di sekolah dikupas melalui studi kasus yang kontekstual. Diskusi, analisis, dan refleksi membawa siswa memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam setiap peran yang diemban.
Kegiatan Kokurikuler ini bukan hanya tentang materi, tetapi tentang proses menemukan jati diri, mengelola emosi, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan.
Karena memimpin dunia dimulai dari memimpin diri sendiri.